Penerapan Konseling Individual dengan Pendekatan Behaviour Untuk Melatih Sikap Asertif Pada Diri Konseli Di SMP Negeri 54 Jakarta
Damayanti Utami, S.Psi1)
1)SMPN 54 JAKARTA; Jalan Blandongan No.37 Glodok Jakarta Barat Email : damay.utami@gmail.com1)
Abstrak
Permasalahan bullying di sekolah merupakan permasalahan yang perlu perhatian tak terkecuali di SMP Negeri 54 Jakarta, terutama dalam penanganan kepada korban bullying, untuk itu penulis mencoba mengangkat permasalahan bullying tersebut, hasil analisis penyebab masalah yang menjadi akar masalah utama peserta didik menjadi korban bullying yaitu karena ketidakmampuan dalam bersikap asertif.
Perilaku asertif sangat diperlukan oleh remaja sebagai bentuk kecakapan komunikasi yang baik, sebagai bekal remaja dalam berperilaku dan berinteraksi sosial baik dilingkungan sekolah maupun masyarakat. Namun kenyataannya masih banyak remaja dalam hal ini peserta didik belum mampu berperilaku asertif secara baik dan maksimal. Melalui pelatihan sikap asertif diharapkan peserta didik mampu mempraktikkan sikap asertif dilingkungan sekolah, selanjutnya menjadi pembiasaan di lingkungan masyarakat.
Kata kunci: Konseling Individual, Pendekatan Behaviour, dan Sikap Asertif.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perilaku Asertif sangat penting dimiliki oleh remaja, sebagai bentuk keterampilan atau kecakapan komunikasi dalam kehidupan. Remaja sebagai tunas bangsa diharapkan memiliki banyak kecakapan, salah satunya adalah kecakapan komunikasi, dalam hal ini perilaku asertif. Perilaku asertif merupakan salah satu kecakapan hidup yang mendasar dan perlu dimiliki oleh seorang remaja. Hal ini dinyatakan oleh WHO bahwa kecakapan hidup adalah salah satu keterampilan seorang individu dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari secara efektif.
Beberapa kecakapan hidup yang paling mendasar serta perlu dipelajari adalah mengelola stress dan menangulangi permasalahan emosional, mengatasi perselisihan, bersikap asertif, menumbuhkan keyakinan diri, berani mengambil keputusan, empati dan kesadaran diri serta berpikir kritis dan inovatif (BKKBN, 2007). Dari beberapa kecakapan hidup dasar yang perlu dipelajari, perilaku asertif pada remaja merupakan kecakapan hidup yang berperan penting pada tahap perkembangan remaja yang mencakup aspek emosi,perilaku, dan kognitif (Vagos & Pereira, 2010).
Peran penting perilaku asertif ini diperlukan terutama agarremaja dapat menghadapi tuntutan sosial yang 6 meningkat pada mereka, baik dari orang dewasa maupun dari teman sebaya (Vagos & Pereira, 2010). Menurut Erbay & Akçay, (2013) untuk menjadi sukses dalam semua aspek kehidupan terutama dalam upaya akademis, dan dalam menjalin komunikasi dengan semua orang, seorang remaja perlu memiliki perilaku asertif. Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan jika perilaku asertif sangat diperlukan bagi remaja, terutama di lingkungan sekolah. Karena, bagaimanapun sekolah adalah sebuah wadah untuk generasi remaja memeroleh segala keterampilan, salah satunya adalah memiliki keterampilan asertif.
B. Kondisi Lingkungan Sekolah
Permasalahan bullying di sekolah merupakan permasalahan yang perlu perhatian tak terkecuali di SMP Negeri 54 Jakarta, terutama dalam penanganan kepada korban bullying. Dari hasil analisis penyebab masalah yang menjadi akar masalah utama peserta didik menjadi korban bullying yaitu karena ketidakmampuan dalam bersikap asertif. Perilaku Asertif sangat penting dimiliki oleh remaja, sebagai bentuk keterampilan atau kecakapan komunikasi dalam kehidupan.
Sekolah merupakan salah satu tempat yang rentan menjadi tempat terjadinya bullying, heterogenitas peserta didik yang ada di sekolah menjadi penyebab terjadinya perundungan. Bullying di sekolah dapat terjadi saat di dalam maupun luar kelas. Begitu juga apa yang terjadi di SMP Negeri 54 Jakarta, kasus bullying banyak terjadi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara bahwa banyak laporan dan catatan kasus terkait bullying, kalau dilihat dari sisi pelaku hal terjadi karena pelaku bullying tidak mampu mengontrol diri/emosinya, tidak suka dengan teman dikelas, ada yang beralasan iseng saja melakukan tindakan perundungan, terbiasa berbicara dengan bahasa kasar dan kotor, merasa paling bisa/paling kuat/besar secara fisik, merasa lebih baik dari teman lainnya, dan membalas hal apa yang sudah dilakukan teman.
Sedangkan dilihat dari sisi korban bullying, peserta didik menjadi korban perundungan karena tidak mampu bersosialisasi dengan baik, tingkat kemandirian peserta didik yang rendah, perbedaan fisik atau karakteristik yang terlihat, kondisi kesehatan / kelemahan fisik, kurang dukungan teman sebaya, merasa di diskriminasi, terlihat sering murung, merasa terancam, rendahnya self esteem, dan tidak bisa bersikap asertif.
Berdasarkan hasil analisis yang menjadi akar penyebab masalah dari timbulnya masalah peserta didik menjadi korban “Bullying / Perundungan” yaitu karena tidak “bisa bersikap asertif”, hasil analisis yang dilakukan solusi yang bisa diberikan kepada peserta didik yang menjadi korban bullying karena tidak bisa bersikap asertif yaitu dengan memberikan Latihan Asertif Melalui konseling Individual. Hal ini dilakukan karena yang menjadi korban bullying adalah seorang peserta didik yang setiap hari mendapatkan perilaku kurang menyenangkan dari teman sekelasnya. Dengan memberikan latihan asertifitas diharapkan peserta didik mampu untuk meningkatan komunikasi secara efektif, mampu mengelola konflik dengan lebih baik, mampu meningkatkan kepuasan dan percaya diri, meningkatkan hubungan sosial, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan secara tegas.
Perilaku asertif merupakan salah satu kecakapan hidup yang mendasar dan perlu dimiliki oleh seorang remaja. Menurut Sriyanto, dkk (2014) perilaku asertif adalah hubungan yang dilakukan merasa lebih percaya diri, mendapatkan rasa hormat dari orang lain melalui jalinan komunikasi secara langsung, terbuka, dan jujur. Hal ini dinyatakan oleh WHO bahwa kecakapan hidup adalah salah satu keterampilan seorang individu dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.. Beberapa kecakapan hidup yang paling mendasar serta perlu dipelajari adalah mengelola stress dan menanggulangi permasalahan emosional, mengatasi perselisihan, bersikap asertif, menumbuhkan keyakinan mandiri, berani mengambil Keputusan, empati dan kesadaran diri serta berpikir kritis dan inovatif (BKKBN, 2007).
Layanan individual yang digunakan untuk perilaku asertif menggunakan pendekatan Behavior untuk mengubah perilaku siswa. Alasan penggunaan pendekatan behavior adalah karena pendekatan behavior memandang individu yang mengalami masalah sebagai adanya proses belajar yang salah dari lingkungan. Pendekatan ini juga memandang bahwa seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.
C. Pencapaian Praktek Aksi PPL Konseling Individual
- Praktik layanan Konseling individual ini dapat dijadikan referensi dalam mengatasi permasalahan yang sama yaitu mengenai perilaku asertif
- Konseli mampu memecahkan masalah penyebab tidak percaya diri (C4)
- Konseli mampu menunjukkan kepercayaan diri (A5)
- Konseli mampu membangun rasa percaya diri saat berada disekolah (P5)
D. Peran dan Tanggung Jawab Konselor dalam Praktik
- Mengikuti dan melibatkan diri dengan penuh semangat dalam semua kegiatan PPL untuk pengembangan kompetensi profesional sebagai guru BK di sekolah
- Mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pelaksanaan PPL konseling individual ini, seperti menyiapkan RPL konseling individual, Melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan beberapa guru mata pelajaran terkait pelaksanaan PPL, mengkondisikan peserta didik, menyiapkan ruangan lengkap dengan media yang dibutuhkan serta menyiapkan sarana dan prasarana lainnya
- Sebagai guru BK yang mempunyai peran fasilitator untuk membimbing peserta didik agar mampu menemukan permasalahan yang ada pada dirinya serta mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan mandiri
E.Tantangan yang Dihadapi Konselor
- Menentukan waktu pelaksanaan layanan Konseling individual dikarenakan waktu konseli yang terbatas (sedang banyak tugas kelas dan les diluar sekolah) sehingga perlu adanya koordinasi dengan guru mata pelajaran terkait perizinan menggunakan jam pelajaran di kelas tersebut untuk melaksanakan layanan konseling individual
- Selain karena jam bertemu sulit, konselor berinisiatif mencoba layanan dengan layanan konseling online
- Konselor memberanikan diri untuk belajar konseling online
- Konseli masih malu-malu dalam mengutarakan permasalahan atau memberikan masukan pada saat konseling individual, namun akhirnya konseli bisa mengutarakan permasalahannya, memberikan masukan bahkan tanggapan.
- Konselor dan peserta didik merasa tegang saat melakukan konseling di sebabkan pelaksanaan konseling di rekam (baru pertama), konselor masih mendominasi pembicaraan saat konseling, tidak ada yang membantu merekam saat melaksanakan proses konseling
BAB II PEMBAHASAN
A. AKSI
- Membuat seperangkat RPL konseling individual sesuai dengan pendekatan dan metode yang digunakan sehingga diharapkan mampu meningkatkan sikap asertif konseli (terlampir)
- Pelaksanaan konseling akan dilakukan sebanyak 5 sesi (terlampir) sesuai dengan tahapan konseling behavioristik yang telah diuraikan di atas. Berikut tema masing-masing sesi:
- Sesi 1 “Knowing further loving deeper”. Pada sesi ini konselor menyiapkan konseli untuk melakukan konseling. Konselor berupaya menciptakan suasana yang nyaman bagi konseli untuk bercerita permasalahan yang dihadapi dan menumbuhkan kepercayaan kepada konselor.
- Sesi 2 “It’s ok not to be ok”. Pada sesi ini konselor bersama-sama konseli menyatakan apa yang menjadi masalah konseli. Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi masalah serta hal-hal yang melatarbelakangi masalah tersebut muncul.
- Sesi 3 “Goal setting” Pada sesi ini konselor merancang tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh konseli dalam proses konseling.
- Sesi 4 “I’m ok, you are ok”. Pada sesi ini konselor bersama dengan konseli melakukan latihan-latihan (role playing) bersikap asertif.
- Sesi 5 “Little giant”. Konselor memotivasi konseli untuk terusmenerus mencoba latihan- latihan asertif dalam keseharian, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga.
- Pembinaan hubungan konseling. Pada tahap ini konselor menciptakan suasana yang nyaman bagi konseli untuk menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya.
- Identifikasi masalah (analisis A-B-C). Pada tahap ini konselor menggali informasi hal-hal apa saja yang menjadi permasalahan dalam diri konseli.
- Merumuskan tujuan. Pada tahap ini konselor melakukan langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan data dasar dari tahap identifikasi masalah, maka konselor bersama konseli menetapkan tujuan konseling secara spesifik (terlampir). Tujuan spesifik merujuk pada tujuan operasional atau realistik dan positif (dapat dilakukan oleh konseli dan kemungkinan manfaat maupun kerugiannya serta mengarah pada perubahan yang dikehendaki sesuai hasil konseling), terukur (measurable) dan tingkah lakunya dapat diamati (observable) Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah asesmen dilakukan analisis.
- Implementasi teknik. Pada tahapan ini konselor melakukan curah pendapat (brainstroming) bersama konseli untuk menentukan dan melaksanakan strategi atau teknik pengubahan perilaku yang akan digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan (tingkah laku yang berlebihan dan perlu dikurangi/excessive maupun perilaku minimal yang perlu ditingkatkan/deficit) dan menjadi tujuan konseling melalui video pemantik (youtube link terlampir), form evaluasi (terlampir)
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
- Hal Positif Pelayanan Konseling Individual
- Peserta didik terlibat secara aktif pada proses layanan konseling individu
- Peserta didik relatif terbuka mengungkapkan masalahnya
- Peserta didik memiliki antusiasme tinggi pada kegiatan layanan
- Peserta didik merasa puas dan lega karena telah mengungkapkan segala permasalaha yang dihadapi
- Peserta didik merasa tergugah untuk melakukan perubahan dalam dirinya agar bisa keluar dari masalah yang dihadapi.
- Pelaksanaan yang mudah memungkinkan peserta didik untuk bisa mengatasi dan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi dalam jangka pendek.
- Faktor Pendukung Keberhasilan dari Strategi Layanan
- Dukungan kepala sekolah dan rekan sejawat yang telah membantu kelancaran proses layanan konseling individual
- Dukungan dan bimbingan dari dosen serta guru pamong yang turut membantu keberhasilan layanan konseling individual
- Penguasaan guru BK terhadap metode,media, dan materi layanan konseling individual
- Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung
B. Saran
- Kepada Kepala Sekolah, agar membuat sangsi dan aturan tentang bullying.
- Kepada Guru BK supaya kreatif dan tanggap untuk mengadakan bimbingan baik klasikal maupun kelompok dengan memberikan informasi dan menyelesaikan kasus bullying yang dialami siswa
- Bagi orangtua/wali, hasil penelitian ini bermanfaat untuk lebih memperhatikan perilaku anaknya
- Kepada siswa diharapkan dapat menumbuhkan sikap empati dan mengontrol emosi.
DAFTAR PUSTAKA
BKKBN. (2007). Kurikulum Dan Modul Pelatihan Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja Oleh Pendidik Sebaya (Kedua). Direktorat Remaja Dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, BKKBN.
Erbay, E., & Akçay, S. (2013). Assertiveness Skill Of Social Work Students : A Case Of Turkey.
www.Journals.Savap.Org.Pk, 4(2), 316–323.
Vagos, P., & Pereira, A. (2010). A Proposal For Evaluating Cognition In Assertiveness. Psychological Assessment, 22(3), 657–665. Https://Doi.Org/10.1037/A0019782.
Sriyanto, dkk. (2014). Perilaku Asertif dan Kecenderungan Kenakalan Remaja Berdasarkan Pola Asuh dan Peran Media Massa. Jurnal Psikologi Volume 41 Universitas Pendidikan Indonesia Bandung,







Baguss terus berkarya ya bu…
Semoga semakin baik konselingnya
Materinya sangat menarik dan menginspirasi.
Sungguh sangat mnambah ide baru yg selama ini kt beranggapan bhw anak sangat nervouse untuk bisa hadir mnmuiibu guru BP
Materinya sangat menarik & semoga bermanfaat utk peserta didik. Semangat & sukses bu Tami untuk seluruh rangkaian proses PPG.
Materi yang di sampaikan sangat menarik dan interaktif
Semoga kedepannya memberikan informasi yang di smpaikan menginspirasi semua org
Materinya bagus dan menarik semoga ke depannya memberi materi yg lebih menginspirasi lagi bagi semua orang .
Materinya sudah bagus, terstruktur dan sistematis, Sangat informatif, komunikatif, dan menginspirasi.
Keren, inspirarif, semangat berkarya
Keren inspiratif semangat berkarya
Menjadi bahan bacaan yang menarik untuk refrensi, terimakasih atas karyanya..
Semoga kedepannya semakin sukses
Materinya bagus semoga anak2 akan terinspirasi
Materinya bagus….
Materi bagus dan menarik semoga kedepannya dapat menginspirasi lagi.
Materi bagus semoga kedepannya dapat menginspirasi.
materinya bagus dan inspiratif , semangat bu tam
Materi menarik, inspiratif, semangat dan terus berkarya..
Materi runtut dan bagus. Inspirasi untuk kita semua para pendidik
Materi runtut dan bagus. Inspirasi untuk kita semua para pendidik