/PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU MENYIMPANG BERPACARAN BAGI SISWA SMP 

PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU MENYIMPANG BERPACARAN BAGI SISWA SMP 

 

Anak – anak merupakan generasi emas yang akan menjadi penerus bangsa. Dalam mempersiapkan hal tersebut anak – anak bangsa penting untuk dijaga dan dibekali dengan ilmu dan karakter yang kuat, agar tidak terjerumus pada masa depan yang suram. Pada era saat ini banyak hal yang dapat merusak anak bangsa seperti dari sosial media ataupun globalisasi. Pada usia remaja, yaitu mereka yang bersekolah di jenjang sekolah menengah pertama, yang ingin mencoba hal hal baru untuk menemukan jati diri. Pada usia ini juga remaja sangat rentan untuk ikut – ikutan dengan hal hal yang negative. Salah satunya berpacaran, yang dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan wajar pada usia remaja ataupun sekolah menengah pertama. Pada usia ini peran guru dan orangtua sangat penting untuk menghindari perilaku – perilaku anak menyimpang. 

Menurut Saxton (dalam Bowman, 1978), pacaran adalah suatu peristiwa yang telah direncanakan dan meliputi berbagai aktivitas bersama antara dua orang (biasanya dilakukan oleh kaum muda yang belum menikah dan berlainan jenis). Perilaku pacaran atau berpacaran telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perilaku ini berawal dari masa muda atau remaja hingga dewasa. Sehingga pacaran merupakan salah satu fenomena yang umum dan dapat diamati. Pacaran diawali munculnya naluri yang baru terhadap lawan jenis dan keinginan untuk menjalin hubungan romantis dengan lawan jenis, yang dipicu oleh mulai matangnya organorgan reproduksi pada pria dan wanita saat masa pubertas. Pada usia remaja yang duduk dibangku sekolah menengah pertama, sudah banyak anak – anak yang sudah berpacaran yang melewati batas normal atau sudah di titik yang mengkhawatirkan. 

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh kesehatan reproduksi remaja (dalam Ditjen kemenkominfo 2013) yang menghasilkan data bahwa 77% remaja laki- laki dan 72% remaja perempuan berpacaran pertama kali pada usia 12-15 tahun. Remaja terdorong untuk melakukan pacarana dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu, adanya globalisasi yang semakin maraknya teknologi canggih seperti TV, computer, dan internet, melemahnya control lingkungan, bergesernya nilai dan fungsi keluarga, kurang perhatian orangtua dan berkurangnya komunikasi dalam keluarga, merosotnya kemampuan persepsi dan interpresepsi terhadap nilai – nilai agama dan budaya, kurang terarahnya metode Pendidikan dan seksual bagi remaja, serta besarnya keinginan remaja untuk mencoba – coba,

Berpacaran tentunya akan berrdampak bagi anak – anak, baik secara negative ataupun positif. Namun secara umum dampak yang diberikan lebih mengarah ke dampak negative, salah satunya menggaggu pendidikannya. Menurut Ekasari dan Rosidawati dalam pengalaman berpacaran pada remaja awal, salah satu dampak negative pacarana bagi remaja adalah menurunkan prestasinya. Sejumlah dampak negative pacaran bagi remaja adalah : 

  1. Mengganggu dan menghambat Pendidikan. Hal ini akan menggaggu dan membuat anak jarang belajar dan mengganggu focus belajar anak yang mengakibatkan menurunnya prestasi.
  2. Meningkatkan risiko depresi, kehidupan berpacaran tidak hanya sebatas bersenang – senang, namun terdapat juga konflik yang mungkin sering terjadi. Apabila remaja tidak mampu melakukan manajemen konflik yang baik, maka akan meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan. 
  3. Bermasalah di rumah atau sekolah. Dampak negatif pacaran bagi remaja yang terakhir adalah dirinya menjadi bermasalah di rumah maupun di sekolah. Misalnya perubahan rutinitas sehari-hari yang cenderung negatif, seperti suka tidur di malam hari atau melawan orang tua. Ada kalanya orang tersebut terlalu fokus dengan pacarnya, bahkan ketika sedang belajar di sekolah. Akibatnya, ia bisa ditegur oleh guru.

Rentanya anak – anak remaja melakukan perilaku menyimpang pada hal berpacaran, penting di dampingi oleh orangtua dan guru. Di sekolah peran guru terutama guru bimbingan konseling (BK) sangat penting dalam memberikan edukasi terkait pentingnya menjaga diri, membatasi diri, dan memahami hal – hal terkait berpacaran. Guru BK merupakan guru yang bertugas untuk mengetahui dan juga memahami perilaku dan juga memberikan konseling kepada siswa sehingga bisa membantu siswanya dalam mengatasi setiap permasalahan siswa. Membahas  tentang  masa  remaja  maka  tidak  lepas  dari  peran  guru  bimbingan dan konseling  yang  ada  di  sekolah.  Guru  bimbingan dan konseling  harus  menjalankan  tugas  dan tanggung jawab secara serius dalam mengawasi dan mengontrol anak baik yang bersifat intern maupun ekstern.Namun apabila perilaku anak sudah jauh menyimpang dibutuhkan beberapa upaya  yang  dilakukan  oleh  guru  bimbingan dan konseling  agar  tidak  terjerumus  ke  dalam pergaulan bebas.Pencegahan dapat dilakukan guru bimbingan dan konseling untuk mengatasi perilaku  menyimpang  berpacaran  pada  siswa.Upaya  pencegahan  dapat  dilakukan  melalui layanan  informasi,  bimbingan  kelompok  serta  layanan  mediasi  agar  dapat  membantu  siswa dalam menyelesaikan masalah dan memperbaiki hubungan (Putra, 2015, hlm.38). 

 Dalam hal berpacaran peran guru BK dalam upaya penanggulangan perilaku pacaran beresiko dapat dilakukan melalui layanan orientasi dan informasi tentang pendidikan seksual remaja, siswa dapat mengetahui dan memahami tentang seksual pada diri remaja dan dampak negative dari perilaku pacaran beresiko terhadap perkembangan diri remaja. Selain adanya peran guru BK dalam penanggulangan perilaku pacaran beresiko pada remaja terdapat juga upaya yang bisa dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling yaitu meliputi upaya preventif dan upaya kuratif. Secara spesifik upaya yang dapat dilakukan guru BK untuk mencegah perilaku berpacaran adalah: 

  1. Bimbingan Konseling 

Pada  dasarnya,  bimbingan  dan  konseling  juga merupakan  upaya  bantuan  untuk  menunjukkan  perkembangan  manusia  secara  optimal,  baik secara  kelompok  maupun  individu  sesuai  dengan  hakikat  kemanusiaannya  dengan  berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemahan serta permasalahannya. Tujuan    umum    bimbingan    dan    konseling    adalah    untuk    membantu    individu memperkembangkan  diri  secara  optimal  sesuai  dengan  tahap  perkembangan  dan  predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada  (seperti  latar  belakang  keluarga,  pendidikan,  setatus  sosial  ekonomi)  serta  sesuai  dengan tuntutan positif lingkungannya. 

  • Upaya Guru Bimbingan dan Konseling 

Upaya  guru  Bimbingan  dan  Konseling  merupakan  suatu usaha  atau  tindakan  yang dilakukan  oleh  guru  Bimbingan  dan  Konseling  dalam  mencegah  dan  memecahkan  suatu persoalan. Sehingga dengan adanya upaya guru Bimbingan dan Konseling dapat ditemukannya jalan keluar dalam suatu persoalan tersebut. Demi mengatasi permasalahan remaja berpacaran, Guru  Bimbingan  dan  Konseling  juga  mendampingi  siswa  dengan  memberikan  layanan informasi  pada  saat  jam  pelajaran  bimbingan  dan  konseling  di  kelas.

Selain itu juga guru diharapkan memahami aspek-aspek psikis murid, dalam hal ini guru   sebaiknya   memiliki   ilmu-ilmu   lainnya   yaitu   psikologi   perkembangan,   bimbingan konseling, serta ilmu mengajar. Akan memudahkan guru memberikan bantuan kepada muridmuridnya dengan adanya ilmu. Usaha lain yang  sangat  penting  dan  dapat dilakukan  oleh  setiap  orang  tua,  guru  atau  pemimpin  masyarakat  adalah  dapat  menciptakan ketentraman  batin  bagi  remaja.  Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam  mencegah  siswa  bermasalah,meliputi, a. Pengenalan awal tentang kasus b. Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah c. Penjelajahan yang lebih lanjut tentang segala seluk beluk kasus d. Mengusahakan upaya-upaya untuk mencegah sumber pokok permasalahan. Prayitno dan Erman Amti (2013, hlm.77) Guru  bimbingan  dan  konseling  sebagai  konselor  di  sekolah  memberikan  layanan pendidikan moral atau agama yang cukup. Hal ini diharapkan dapat membentengi remaja dari penyimpangan  perilaku  yang  berujung  kepada  seks  bebas  di  kalangan  remaja.  Agar  remaja dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, guru bimbingan dan konseling wajib. Selain itu guru bimbingan dan konseling meminta bantuan wali kelas agar pada saat perwalian dengan orang tua siswa, walikelas menyampaikan beberapa hal mengenai pentingnya perhatian serta teladan dari orang tua kepada anak-anaknya. Hal ini sangat  diperlukan  oleh  seorang  remaja,  agar  mereka  terhindar  dari  penyimpangan  perilaku berpacaran yang menjurus kepada seks bebas

Penulis : Roslinang Siburian, S.Pd Guru BP/BK SMP Negeri 54 Jakarta